Your Ad Here

Tuesday, May 29, 2012

"Soegija", Natural dan Menenggelamkan

"Soegija", Natural dan Menenggelamkan
JAKARTA - Tundukkan kepala sebagai tanda hormat untuk Garin Nugroho dan kawan-kawan. Yang telah menyajikan film Soegija dengan luar biasa. Bukan sekadar ceritanya yang dialirkan via pendekatan sejarah populer romantis.

Namun juga mengisahkan jejak langkah Romo Soegijapranata sebagai uskup pribumi pertama di Jawa -pada 1940, berbarengan dengan pengangkatan Soegija sebagai Uskup oleh Vatikan, Indonesia belum merdeka, dengan demikian konsep negara bernama Indonesia belum begitu dikenal meski mulai didengungkan- tapi juga semua unsur yang mendukungnya, termasuk pelakon dari Belanda, Jepang dan Indonesia yang tampil natural dan menenggelamkan.

Serta kekuatan sinematografi dan bangunan artistik yang mampu ditangkap kamera menjadi gambar hidup, sudah mampu bercerita. Menjadi lebih hidup ketika skenario yang ditulis Armantono dan Garin Nugroho memberikan muatan dialog, dualog, dan monolog atas gambar itu. Sehingga tidak penting lagi, pada posisi mana yang lebih kuat; gambar atau ujaran. Karena dua-duanya tampil luar biasa pada posisinya, juga indah.

Semakin sempurna manakala Djaduk Ferianto sebagai musik director dengan sentuhan midasnya melaraskan musik menjadi bagian yang melekat dari film berdurasi 115 menit itu.

Maka, menyaksikan film yang melibatkan 2775 figuran, dan menggunakan enam bahasa, termasuk bahasa Belanda, Jepang dan Latin, seperti menyaksikan Indonesia dari kacamata yang berbeda. Kacamata Garin yang lebih bersahabat -jika dibadingkan sejumlah film Garin lainnya yang mengalir layaknya puisi dan dengan demikian penuh perlambang-, tanpa harus kehilangan inti kedalaman cerita.

Andai semua film Indonesia mampu menghadirkan tayangan seberkualitas film rilisan Puskat Pictures, PT. Alam Media, Studio Audio Visual Puskat, Yogyakarta, yang akan rilis pada 7 Juni nanti, dapat dipastikan kita akan melangkah bangga begitu keluar dari pintu bioskop, seusai menontonnya.


Aktor Belanda
Lihatlah, bagaimana gambar Teoh Gay Hian selaku penata kamera, dan Ong Hari Wahyu sebagai designer produksi merayakan pesta sinematografi di film ini. Juga akting menawan nan atraktif serta teatrikal Wouter Zweers, aktor Belanda, yang berlakon sebagai Robert, pimpinan serdadu Belanda, yang gemar mengklaim dirinya bagai mesin perang terbaik, dan tak terhentikan. Yang gemar menghina dengan mengatakan tangan Kanjeng Romo atau Uskup pribumi Soegija berbau seperti kerbau.


Juga Wouter Braaf, selaku fotografer bernama Robert, yang hatinya terbelah antara ibu pertiwinya, atau mencintai dara seorang pribumi, yang payahnya gemar merongrong perasaan sentimentilmya. Atau bagaimana Margono sebagai Pak Besut menjadi corong cerita yang aduhai, yang mampu mengaitkan dengan rapi setiap pergerakan Soegija dengan berbagai kejadian besar di muka bumi lainnya.

Tak ketinggalan sejumlah aktor lainnya seperti Andreano Fidelis (Banteng) yang didapuk sebagai serdadu apa adanya, yang hanya mampu mengeja kata; m-e-r-d-e-k-a, tapi gemar berperang di jalur paling terdepan. Dan mampu memprovokasi semua temannya bertempur hingga darah penghabisan, tapi gentar dengan neneknya tersayang.

Bangunan paradoks dari kondisi yang mengitari sosok Soegija, termasuk sosok Koster Toegiman (Butet Kartaredjasa) yang dihadirkan seperti untuk membangun adegan "goro-goro" karena senantiasa menimbulkan tawa begitu dia menjelang di sebuah adegan, membuat film ini menjadi sangat hidup, di tengah pesan-pesan yang penuh kedalaman yang ingin disampaikan.
Kamis (24/5), Garin seusai preview Soegija mengatakan, dari mula film ini memang dibuat seartistik mungkin, juga penggarapan kostumnya. "Ini ensembel semua lini," katanya. Dan yang paling penting, film Soegija bercerita tentang kemanusiaan. Meski dia juga mengakui film ini dibuat silinear mungkin, tapi, "Film ini tetap memberi banyak isyarat. Yaitu tentang kepemiminan, juga kebersamaan."

Jadi, jika ingin melihat kebesaran hati Soegija, juga bagaimana sebuah film yang indah bercerita, "Soegija," jawabannya. Dengan demikian pesan Soegija -yang dilakoni Nirwan Dewanto- kepada semua anak bangsa, dapat tersampaikan dengan utuh. Seperti pesan Soegija yang mengatakan, "Jika rakyat kenyang, biar para imam yang terakhir kenyang. Bila rakyat kelaparan, biar para imam yang pertama kelaparan," kembali menjadi pedoman hidup yang mencerahkan.

Sumber : suaramerdeka.com

0 comments:

Post a Comment